Cikini Hampir Jam 12


DSCN0635

; D. Anggraeni

Suara serak kereta tua yang berulang-ulang kali dipaksa puber
lamatlamat menderu.
Parau suaranya memanggil orang-orang dari arah Gondangdia,
“lekas-lekas, berbarislah.”
dikenyotnya besi-besi karat yang menjulur dari stasiun Kota hingga Bogor raya.
Rel-rel besi yang tak bergizi.
Mata tuanya, yang lama sudah rabun jauh, masih dipaksa menjelalat
hingga tengah malam kian dekat.

Di stasiiun Cikini aku menanti.
Berdiri seorang diri setelah mengencani kekasih dua bulan sekali.
Ritual ini mestinya abadi.
Jadi sesuatu yang lebih purba dari prasasti.
Sesuatu yang pasti bukan sekedar imajinasi;
ku khayalkan masa tua, kau terawang hari senja, kita bersama melewatinya.

Cikini, hampir jam 12. Cepat atau lambat kita mesti bergegas.

(Rawajitu, 250712)

oleh Rico Mangiring Purba (Kompas. Rabu, 12 September 2012 | 03:12 WIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s