Di Sudut Kota


unduhan

Hujan benar-benar melumat kerinduannya hari ini.
Hingga ia meringkuk di dalam kabin
memandangi setiap butir hujan yang menyetubuhi jendela mobilnya.
lalu butir-butir itu meleleh turun mengalun berekor serupa sperma.

Hujan telah membuatnya menunggu lebih lama.
Sementara hawa kian basah dan melembabkan
aroma napas si penyair: berat dan kedinginan di udara.

Palembang, 25.12.12

oleh Razack Pulo (Kompas. Senin, 14 Januari 2013 | 23:29 WIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s