Apa Sebenarnya Ini?


muhasabah

 

Bulan purnama malam ini, entah aku tak ingat purnama yang keberapa sejak kau memintaku untuk menemukan hal yang sukar dipahami, dirasakan, dan dicari? Bukan karena sesuatu itu adalah barang yang abstrak, yang diluar ejaan panca indra. Melainkan kau memintaku menemukan rasa biasa yang belum terbiasa aku mengenalinya. Entahlah, rasanya masih rancu saja waktu itu aku memamah perkataanmu.

“tahukah kau betapa tersiksanya aku merindukanmu, A?” keluhku.
“benarkah?” sangsimu dengan sedikit mengerutkan dahi dan menjunjung sepasang alis.
“aku sangat kesepian tanpamu, A” kukuhku kemudian.
Saat itu, kau sedikit berpaling dan membuang muka. Kemudian tertunduk dan memainkan sedotan dengan separuh jus jambu dalam gelasmu. Aku tahu kau kemudian memikirkan sesuatu. Sepertinya kau begitu mencurahkan sepenuhnya rasa dalam memahami ujaranku. Aku hanya menelan ludah. Bersiap untuk responmu yang sepertinya akan sedikit, atau mungkin begitu mencengankanku.
“ada apa denganmu? Apa hal yang sedang kau pikirkan?” selidikku
“ah, bukan. Aku tak apa kok”
“kau yakin?”
Sepi sebegitu saja melintas saat kau memberikan ruang pada keheningan yang semakin mengakrabi. Kau tampak sedikit gelisah.
“kau yakin kau merindukanku?” katamu menguraikan keheningan.
“tentu” jawabku singkat
“kau yakin kalau itu bukan hanya sekedar rasa sepi?”
“maksud kamu?”
“aku harap kau tak menganggap sama antara rindu dan hanya sekedar rasa sepi”
“……”
oleh M. Fikri Nadzif (WAWASANews.com Pada Tuesday, February 26, 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s