Mata Sapi


523ac44819086

Yang kuning bundar adalah cintaku dilingkari kesucian seorang
perempuan yang belum pernah melahirkan. Aku rangkum dunia ibu dalam
sejarah panjang yang bergulir dari ladang ke dagingku. Sepercik garam
menyedapkan pandang dan hidup lapang mengusung kisah para petambak di
musim yang tak bisa ditebak. Nasib selalu berputar seperti lingkar
matamu yang coklat semu.

Tak ada yang lebih indah dari pada perjumpaan saat kita menuai janji
di meja yang penuhi bunga wangi. Aku pilih piring dengan motif kembang
belang, merah dan hitam. Merah bahagia dan ketabahan cinta yang selalu
menggoda. Pada setiap suap nasi yang aku telan butiran-butiran cahaya
bersinar dari ladang hatimu yang subur. Cahaya yang menguatkan
pepohonan merajamkan akar dan cecabang ke segala ruang. Hingga
bunga-bunga bermekaran memenuhi ruang tunggu tempat kau dan aku
menyusu waktu.

Tak ada yang lebih rindu dari rasa lapar yang terus menderu untuk
mengisi kepal demi kepal bongkahan cinta yang berguguran dari tebing
matamu. Mata yang tumpah di atas meja pertemuan dan selalu memandang
janji kita untuk selalu setia. Sesetia api pada panas yang selalu
menguraikan cair pada pekat. Sepekat cinta kita sepakati.

oleh Hidayat Raharja, guru biologi SMA Negeri 1 Sumenep. (Kompas. Selasa, 12 Juni 2012 | 17:07 WIB )

One thought on “Mata Sapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s