Trembesi


sam

Berapa umur tuan? Hujan jatuh di halaman, mengguratkan lingkar tahun
dan musim  berguguran bersama daun. Jalan menikung dan berliku di
ujung. Sawah-sawah  hijau oleh cinta memandang udara yang selalu
menuju ke utara. Di barat sungai melenguh sambil mengusir hujan riuh.
Batang-batang  trembesi menjulang menadah airmata langit yang selalu
tumpah bersama sakit.

Dedaun mungil yang menuliskan cinta abadi, menguning berguguran
memenuhi halaman. Ia menuliskan suara langit menjerit, udara beracun
memasuki paru dunia, di antara sesak waktu kesulitan mencari rongga.
Batang-batang kian hitam oleh ludah kesal yang geram. Guratan guratan
tegas mengingatkan surat wasiat kakek yang pernah aku buka dalam
sebuah laci meja. Tulisan yang mengingatkan pada lukisan kaligrafi
kaca di atas pintu masuk rumah. Sebagai penjaga, katanya.

Bening oksida dan kelam karbondioksida selalu bertukar di udara, di
paru hijau trembesi mengembang ke angkasa. Jemari tangannya beribu
dengan bulu-bulu kemuning meniupkan angin ke selatan memberikan
harapan hidup yang sebentar. Sebab, yang lama adalah keabadian.
Akar-kemakar  menembus kedalaman hati, cecabangnya merangkul remahan
diri, ia terus menjalar menyusuri hidup di antara batu nasib dan
sungai haru dalam pembuluh waktu. Jika sempat bertemu terimalah
seluruh rindu di antara racun dan temu. Di antara harapan yang tumbuh
pada setiap jengkal jejak, yang pernah kita pijak.
2012

oleh Hidayat Raharja, guru biologi SMA Negeri 1 Sumenep. (Kompas. Selasa, 12 Juni 2012 | 17:07 WIB )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s